📖 Catatan Seorang Ayah: Dulu Aku Tak Seperti Ini
📖 Catatan Seorang Ayah
Dulu Aku Tak Seperti Ini
Dia bukan tokoh besar. Tidak punya gelar panjang. Hanya seorang ayah biasa — yang hari ini duduk termenung di ujung ranjang, menyesali banyak hal yang tak pernah sempat dia perbaiki.
"Dulu aku tak seperti ini..." bisiknya dalam hati.
🧎 Dulu, dia lelaki yang takut dosa. Yang selalu menjaga pandangan, yang bangun subuh tanpa alarm, yang menahan marah meski lelah dan miskin.
Dia masih ingat, dulu dia selalu menyimpan sisa uang belanja untuk beli es lilin buat anak pertamanya. Karena baginya, senyuman anak lebih mahal daripada apapun.
🌧️ Tapi waktu berjalan...
Dunia mulai menipiskan rasa takutnya. Tagihan datang. Hutang menumpuk. Kelelahan berganti pelarian, pelarian berganti kebiasaan... hingga akhirnya ia sadar: **dia berubah, dan bukan ke arah yang dia banggakan.**
Dia mulai sering diam. Mulai marah karena hal sepele. Mulai hilang arah, dan mulai jauh dari Tuhan.
"Aku kehilangan diriku sendiri..." gumamnya dalam tangis yang tak bersuara.
🥺 Dan yang paling menyakitkan...
Dia mulai melukai istri yang setia menemaninya sejak tak punya apa-apa. Dia mulai mengecewakan anak yang tak pernah minta banyak, selain waktu dan pelukan.
Dia tak tahu kapan persisnya semua mulai salah. Tapi hari ini, dia sadar… dirinya yang dulu tidak mati — hanya tertimbun dosa dan diam.
🕊️ Dia Ingin Kembali
Bukan ke masa lalu. Tapi ke hati yang dulu pernah tulus. Ke jiwa yang dulu takut Allah lebih dari takut miskin.
Dia ingin bangun kembali pagi-pagi untuk sholat. Ingin tersenyum lagi pada anak tanpa beban pikiran. Ingin jadi pelindung, bukan beban.
Dan malam ini... dia tidak menulis untuk minta simpati.
Dia menulis... karena ingin menemukan dirinya yang lama — dan menghidupkannya kembali.
Untuk semua ayah di luar sana: Kalau kamu merasa ini kisahmu juga... berarti kita masih hidup, dan belum terlambat untuk berubah.

Komentar
Posting Komentar