"Dulu Sore Adalah Waktu Mengaji, Kini Hanya Tinggal Kenangan di Era Digital"

Dulu Sore Adalah Waktu Mengaji, Kini Hanya Tinggal Kenangan di Era Digital

Setiap sore, ketika matahari mulai turun, ada satu rutinitas yang tak pernah terlewatkan oleh anak-anak zaman dulu: pergi mengaji. Dengan baju koko, sarung, dan peci atau mukena kecil, mereka berbondong-bondong menuju rumah ustadz atau surau terdekat. Tidak ada paksaan. Justru ada semangat. Mengaji bukan hanya soal membaca Al-Qur'an, tapi juga tentang kebersamaan, kedisiplinan, dan cinta terhadap ilmu agama.

Kini, pemandangan itu semakin jarang terlihat. Anak-anak lebih banyak tenggelam dalam gawai, game online, dan konten digital. Sore bukan lagi waktu yang dinantikan untuk mengaji, tapi lebih sering jadi momen scroll TikTok atau push rank game favorit.

📚 Mengaji: Budaya yang Membentuk Karakter

Tradisi mengaji sore tidak hanya mengajarkan huruf hijaiyah, tetapi juga akhlak. Anak-anak belajar menghormati guru, bersabar, bertoleransi dengan teman, dan membiasakan diri disiplin. Bahkan banyak di antara mereka yang punya kenangan lucu seperti lupa bawa iqra', ditegur karena ribut, atau tertawa saat teman salah baca.

🌇 Sore Dulu vs Sore Sekarang

Dulu, setelah bermain petak umpet atau layangan, anak-anak langsung bersiap ke tempat mengaji. Sekarang, sore hari lebih sepi. Surau tak seramai dulu. Bahkan ada yang sudah tidak membuka pengajian anak-anak lagi karena tak ada yang datang.

Perubahan ini tidak sepenuhnya salah. Dunia memang berubah. Tapi apakah kita membiarkan nilai-nilai lama yang baik itu menghilang begitu saja?

👨‍👩‍👧‍👦 Peran Orang Tua & Lingkungan

Kita tak bisa memaksa zaman berhenti, tapi kita bisa mengajarkan anak-anak untuk mencintai ilmu agama seperti masa kecil kita dulu. Mulailah dari hal sederhana:

  • Mengajak anak mengaji meskipun di rumah sendiri
  • Menceritakan kisah-kisah masa kecil tentang indahnya sore hari mengaji
  • Membatasi screen time saat sore hari
  • Menjadikan waktu magrib sebagai waktu keluarga dan ibadah

🙏 Mari Bangkitkan Lagi Tradisi Mengaji Sore

Mari kita jadikan artikel ini sebagai ajakan kecil namun berarti. Jika Ayahana sebagai penulis sudah sampai ke artikel ke-120 hari ini, maka doa dan harapan Ayahana adalah agar anak-anak kita bisa tumbuh dengan nilai yang sama seperti yang dulu kita rasakan.

Mengaji bukan hanya belajar Al-Qur'an, tapi belajar hidup. Sore bukan hanya waktu istirahat, tapi momen sakral untuk dekat dengan Ilahi.

Semoga tradisi ini bisa kembali hidup, meski dalam bentuk yang berbeda. Karena masa kecil yang indah adalah masa kecil yang dekat dengan Allah.

“Didiklah anakmu sesuai zamannya, tapi jangan hilangkan nilai terbaik dari zamanmu.”


#Ayhn120 – Terima kasih untuk setiap pembaca yang telah menemani perjalanan 120 artikel ini. Semoga semakin banyak tulisan yang bukan hanya dibaca, tapi juga menggerakkan hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Banyak yang Belum Tahu! Saluran WhatsApp Ternyata Bisa Hasilkan Uang"

Persib Bandung Siap Hadapi Semen Padang di Laga Pembuka BRI Super League 2025/2026

Sejarah Cilok: Dari Aci Sederhana Menjadi Jajanan Legendaris